Skip to main content

Pembebasan Boneka Sapi

       
  12 Januari 2000, adalah hari lahir Renu. Tidak terasa memang, waktu berjalan begitu cepat. Salah, sebenarnya tergantung situasi dan kondisi. Saat suasana hati Renu dalam kondisi cerah, waktu akan berjalan cepat, bahkan terkadang sangat cepat. Begitu juga sebaliknya, saat suasana hati Renu pudar, waktu seakan sangat lambat. Bahkan, Renu sempat berpikir, apakah waktu benar berjalan?. Jika dipikir lebih jeli dan mendalam, waktu tidak salah apa-apa. Waktu tetap berputar pada poros dan tugasnya. Hati manusia inilah  yang dengan sesuka hati selalu memprediksi segala hal. Termasuk, waktu.
Usia Renu memasuki usia remaja akhir, dan siap untuk memasuki tahap usia dewasa awal. Angka penghujung belasan itu membuat Renu panik. Banyak sekali hal-hal yang dicemaskannya. Bagaimana aku saat dewasa nanti? hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi orang dewasa? apakah aku sanggup?. Kecemasan itu yang selalu mengganggu hari-hari Renu. Baik saat di sekolah, di rumah, saat bermain dengan kawan-kawan, Renu bingung, mengapa semua teman sebaya yang ditemuinya bersikap santai.  Apa mereka semua diam-diam sudah mempersiapkan atau tengah memantangkan apa yang dipikirkan? Tapi, bagaimana caranya? haruskah aku bertanya pada salah satu teman?.
Renu tetap enggan bertanya kepada salah satu teman. Serba salah memang. Ingin sekali Renu bertanya setidaknya satu hal saja. Setidaknya, Renu mendapat bayangan dan pencerahan bagaimana menghadapi usia saat remaja akhir, dan bersiap menghadapi usia dewasa awal. Masalah sebenarnya adalah, bagaimana jika pertanyaan Renu bernilai rendah atau bahkan tidak penting dihadapan teman sebayanya?. Padahal, kata demi kata, kalimat demi kalimat, sudah tersusun rapi di otak Renu, dan siap untuk dilontarkan. Tapi, apa boleh buat? tingkat gengsi Renu selalu lebih dominan dan selalu berhasil menguasai pola pikir Renu.
Akhirnya, seperti yang Renu lakukan sedari kecil, ia selalu menceritakan segala halnya, baik itu hal baik, biasa saja, sampai hal buruk, semua Renu ceritakan melalui boneka kesayangannya, boneka sapi. Tidak ada nama spesial dari boneka itu. Tetap seperti nama aslinya. Boneka sapi itu adalah hasil jerih payah Renu saat berjualan Tahu Goreng dari Bunda Ine. Bunda Ine adalah tetangga Renu. Jangan risau, Renu mempunyai Ayah dan Ibu. Tetapi, kali ini Renu ingin membeli sesuatu dari hasil kerja keras sendiri. Hal ini Renu lakukan tanpa sepengetahuan orang tua Renu. Untuk lebih mamaksimalkan aksinya,  Renu pun meminta agar Bunda Ine tidak memberi tau apa yang terjadi.
Saat berjualan tahu goreng, usia Renu baru menginjak kelas 4 SD. Renu merasa sangat membutuhkan benda lucu untuk Renu berbagi cerita sehari-hari. Dengan alasan itulah, Renu akhirnya mendatangi rumah Bunda Ine untuk menawarkan berjualan tahu goreng hasil masakannya, kemudian dibawa ke sekolah. Tanpa banyak basa basi, Bunda Ine dengan senang hati menerima tawaran Renu. 
Berjualan tahu goreng selama 5 bulan ternyata tidak sia-sia. Renu berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak untuk anak usia Renu saat itu. Uang yang didapat, langsung ia pakai untuk membeli sesuatu yang sudah menjadi rencananya sejak awal. Renu lalu mengunjungi salah satu toko yang menjual berbagai barang lucu. Dan saat itulah, Renu menemukan boneka sapi yang menjadi boneka kesayangannya.  Hingga Renu berusia belasan akhir, boneka sapi itu tetap menjadi sahabat cerita setianya.
Pada hari tepat 12 Januari 2020, Renu telah resmi menjadi seorang dewasa awal. Ucapan perayaan penambahan usia Renu mulai ramai. Mulai dari orang tua, hingga teman-teman. Tetapi, dalam hati kecil yang paling dalam, Renu samakin cemas, risau, bingung, takut, semua menjadi satu. Sejak mempunyai boneka sapi, Renu tidak pernah menceritakan segala hal kejadian apapun kepada semua orang, termasuk orang tua. Renu selalu merasa,segala bentuk peristiwa yang diceritakan, adalah suatu hal yang sangat biasa, dan bahkan tidak penting.
 Selama bertahun-tahun, tanpa disadari, Renu tumbuh menjadi pribadi yang sangat tertutup, tingkat gengsi yang tinggi, dan yang paling tidak disadari Renu adalah, ia tidak mempercayai orang-orang. Bahkan, orang terdekat sekalipun.
Tidak mudah memang, sangat tidak mudah untuk memulai dengan pribadi baru, mencoba lembar baru yang belum pernah dimulai, mencoba menuruti keinginan dari hati yang selama ini, meski dengan berbagai keraguan dan pertimbangan, ingin sekali ia lakukan sebenarnya sedari kecil.
 Bagi banyak sebagian orang,  ini adalah hal yang sangat umum dan biasa. Tapi, tidak bagi Renu. Dengan perasaan penuh sesak dan lega, Renu membebaskan boneka sapinya. Sudah saatnya, ketika ada masalah, atau ingin sekedar bercerita, Renu harus bercerita kepada orang terdekat, atau orang yang sudah menjadi kepercayaan Renu. Apakah ini merupakan salah satu bentuk sifat dewasa awal? Renu tidak tau. Setidaknya, dengan membebaskan boneka sapi yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat perjalanan ceritanya, penyumbat kecil yang tak terlihat itu sudah hilang.
Tidak salah memang, jika ingin menceritkannya melalui suatu benda lucu atau benda kesayangan. Yang salah adalah, penempatan porsi sifat yang menjadi tidak sesuai.
Ceritakanlah kisahmu, aktivitasmu, perasaanmu, kepada orang-orang terdekat, atau seorang yang dapat dipercaya. Tidak apa sekalipun cerita itu tidak penting. Karena Sang Pencipta, menciptakan berjuta manusia di muka bumi, mempunyai fungsi untuk saling berbagi, mendengarkan, menasehati segala bentuk cerita dan permasalahan di muka bumi. 

Comments

Popular posts from this blog

PEMERAN UTAMA

Pemeran utama itu melelahkan! Aku ingin jadi pemeran pendukung, kalau perlu, hanya figuran beberapa detik. Tulisan ini sungguh aneh. Cerita ini sungguh membosankan. Aku ingin, aku ingin hidup ceria, apa itu mungkin?. Aku bangga dengan semua hal yang dilakukan diri sendiri, atau orang lain. Perjuangan itu memang ada. Rasa simpati itu memang nyata. Dan, waktu terus berjalan. Pemeran utama adalah tujuan utama. Malam hari, udara sangat sejuk. Gemerlapnya bulan bintang yang selalu setia menemani. Tak lupa, langit yang selalu ada.

Sedikit Tentang Perasaan

  Hari ini, hujan lebat disertai angin kencang. Di sore hari yang sibuk. Sebuah tulisan tentang sore hari. aku ingin mencurahkan, lagi-lagi tentang perasaan. Perasaan menyukai. Perasaan mencintai. Sebenarnya, apa itu mencintai? Tertarik dengan seseorang? mengagumi? Aku rasa iya. Tetapi, apa benar hanya itu? Sudah sejak saat remaja, hingga beberapa tahun sebelum masa hari ini, sudah banyak laki-laki yang aku kagumi. Tapi, aku tidak merasakan hal lain. Tidak merasa apa itu tersipu malu, apa itu hati berdebar, dan perasaan guncang lainnya. Tidak, aku tidak merasakan itu. Yang aku rasakan hanyalah kekaguman yang luar biasa. Kekaguman yang akhirnya berujung biasa saja. Pernah, dua kali. Karna aku tidak tahu apa itu arti sebenarnya menyukai seseorang, aku sempat bilang secara langsung kalau aku menyukai orang itu. Pada awalnya canggung, tapi itu hanya sebentar. Lalu, akhirnya berjalan seperti biasa. Sedikit sekali kesedihan yang aku alami saat aku belum ...