Hari ini, hujan lebat disertai angin kencang.
Di sore hari yang sibuk.
Sebuah tulisan tentang sore hari.
aku ingin mencurahkan, lagi-lagi tentang perasaan.
Perasaan menyukai.
Perasaan mencintai.
Sebenarnya, apa itu mencintai?
Tertarik dengan seseorang? mengagumi?
Aku rasa iya.
Tetapi, apa benar hanya itu?
Sudah sejak saat remaja, hingga beberapa tahun sebelum masa hari ini, sudah banyak laki-laki yang aku kagumi.
Tapi, aku tidak merasakan hal lain. Tidak merasa apa itu tersipu malu, apa itu hati berdebar, dan perasaan guncang lainnya. Tidak, aku tidak merasakan itu.
Yang aku rasakan hanyalah kekaguman yang luar biasa.
Kekaguman yang akhirnya berujung biasa saja.
Pernah, dua kali. Karna aku tidak tahu apa itu arti sebenarnya menyukai seseorang, aku sempat bilang secara langsung kalau aku menyukai orang itu.
Pada awalnya canggung, tapi itu hanya sebentar. Lalu, akhirnya berjalan seperti biasa.
Sedikit sekali kesedihan yang aku alami saat aku belum tau apa itu sebenarnya menyukai, perasaan mencintai.
Hingga akhirnya, entah datang dari mana, entah bagaimana awal mulanya, aku merasakan hal itu.
Merasakan definisi menyukai, merasakan definisi mencintai yang memang seharusnya.
Jika ingin jujur, aku tidak suka ini.
Terlalu rumit, terlalu menyita waktu, terlalu membebani hati.
Sejak dahulu, sosok laki-laki yang aku kagumi adalah sosok berwibawa, dan sosok yang memang menjadi sumber perhatian. Karna aku sering menghabiskan waktu dan banyak bergaul bersama sosok kepribadian mereka.
Dan,
Aku sejak dulu tidak suka sosok laki-laki yang “pendiam,” atau bisa disebut “rakyat biasa.” yang tidak terlalu menyukai sebuah organisasi “keren.” seperti Osis, BEM, Himpunan,atau organisasi “keren” lainnya.
Terlebih, sejak dulu, jika aku tahu baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari luar pulau jawa, khususnya sumatra, aku selalu menganggap mereka “galak, dan jauh.” Alasannya kenapa, aku tidak tahu. Tapi, Sumatra itu memang jauh.
Aku tidak tahu apakah ini salah satu “kemakan omongan sendiri,” atau bukan,
Dengan orang ini lah aku merasakan apa itu menyukai, apa itu mencintai secara alamiah.
Dengan sosok laki-laki yang “pendiam,” dan kebetulan juga dari Sumatra.
Sosok laki-laki yang selama ini aku tidak suka, aku hindari, justru sekarang aku merasakan apa itu tersipu malu jika bertemu, berdebar hati ketika melihat wajah, sering memikirkan tapi malu memulai pembicaraan, dan perasaan aneh lainnya.
Yang aku lihat dari sosok laki-laki ini, aku belajar bahwa kewibawaan sosok laki-laki bukan terlihat dari bagaimana ia keren memimpin banyak orang, bukan terlihat dari bagaimana aktifnya atau lantangnya ia saat berbicara, tapi bagaimana ia hebat memimpin dirinya sendiri. Bagaimana ia hebat bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Itu hal yang aku lihat dari sosok laki-laki ini.
Bagaimana akhirnya nanti, aku tidak tahu.
Tapi, mau nanti akhir bahagia, sedih, atau biasa saja,
Aku ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih sudah menjadi laki-laki pertama yang membuat aku jadi tersipu malu.
Comments
Post a Comment