Skip to main content

Sayang Abadi

Jakarta, 2021.

Matahari sedang mengeluarkan kemampuan energi panasnya. Meski energi yang dikeluarkan matahari di kota khas ondel-ondel ini  hanyalah sepersekian persen kecil dari teriknya di Negara Timur Tengah. Tapi, tetap saja. Namanya energi matahari, mau bagaimanapun itu, tetaplah panas.

Di sebuah kosan sederhana, dengan fasilitas mencukupi untuk aku bisa bernaung. Dan terpenting, harga bersahabat. Butuh strategi khusus menemukan tempat tinggal di Ibu Kota yang sesuai dengan kebutuhan dan keuangan.  

Kosan tempat tinggalku, hanya terdiri dari 3 lantai. Lantai satu untuk keluarga pemilik kos, lantai 2 lantai atas untuk kami para anak kos. Oia, lantai 3 adalah hanya untuk keperluan menjemur pakaian dan tempat toren air.

Sebenarnya, boleh ku bilang, kosan ku ini lebih kepada kami menginap di rumah seseorang, dan berbayar. Karena terkadang, aku tidak merasa aku sedang nge kos. Baru kerasa jika tiba-tiba sudah ada tagihan dari Ibu Kos untuk membayar uang bulanan kosan.

Kipas kecil yang terus memutar memenuhi tugasnya, memberikan rasa sejuk kepada siapun pemiliknya. Ditambah sesekali angin di luar sana yang  masuk melalui celah jendela kamar kosan ku, seakan ikut membantu menenangkan pikiranku yang terus fokus mengerjakan laporan karya ilmiah di depan laptop diiringi berbagai ucapan menggerutu ku yang tak kunjung usai.

Aku adalah satu dari sekian juta anak rantau yang tinggal di Ibu Kota. Kota besar yang seakan “ wajib” dijajahi oleh para kaum muda yang ingin merasakan perjuangan keras mencari pengalaman hidup, maupun pundi-pundi uang. Atau, ada juga alasan kaum muda merantau kerja di Ibu Kota, agar saat orang tua mereka ditanya oleh sekelompok penduduk komplek rumah dan jajarannya, “Anaknya kerja dimana?.” Jawaban Jakarta adalah penelontaran yang cukup pas dan bagus. Masalah kerja di perusahaan apa, bidang apa, itu tidak penting lagi. Para sekelompok penduduk komplek rumah dan jajarannya tidak begitu peduli dengan hal itu. Karena mereka berpikir, semua aspek perusahaan di Jakarta bagus dan berkelas. Di tambah, pasti anaknya kelak mempunyai banyak teman yang gaul alias hits.

Aku bekerja di salah media yang berlokasi di Ibu Kota, sebagai tim Riset dan Pengembangan. Sudah 3 tahun aku menekuni pekerjaan ini. Pekerjaan menguras pikiran, juga mood ku, tapi aku senang. Alasannya hanya satu: Aku sangat suka memperdalam suatu informasi yang diperoleh. Kalian pasti bertanya, jika senang dengan suatu pekerjaan harus ada menggerutu?. Jawabannya adalah, agar pekerjaan ku lebih berwarna. Karena dengan menggerutu itulah, lama-lama tidak terasa pekerjaanku cepat selesai. Metode penyelesaian pekerjaan yang terbilang aneh, menurutku. Dan pasti, menurutmu juga.

Handphone ku tiba-tiba bergetar, memancarkan cahaya. Memberi sinyal pemberitahuan sesuatu. Fokus dan ucapan gerutuku berhenti seketika. Kepalaku langsung menoleh ke layar handphone. Satu notifikasi WhatsApp. Ternyata dari Ibu.

Ibu: “Didin, lebaran di rumah, kan?.”

typing.....

Aku menunggu Ibu selesai Typing. Lama sekali. Sudah satu menit Ibu belum selesai typing.  Sepertinya akan ada kalimat ajakan yang mujarab.

Ibu: “ Lebaran tahun lalu... kurang meriah... nggak ada Didin.... Biasanya kan kamu yang paling banyak makan opor ayam.  Tahun kemarin opor ayamnya sisa banyak di panci. Kalau ada kamu, pasti habis sampai ke kuah-kuanya, terus daun kemangi juga kamu makan. Kamu memang anak yang tidak merepotkan, Didin. Lebaran ini pulang ke rumah ya, nak. Ibu, Ayah, dan Dek Tuti merindukanmu.”

Benar dugaanku. Ibu membawa nama opor ayam sebagai ajakan jitu  untuk  aku mudik pulang ke rumah. Sangat klasik memang. Tapi itulah kelemahanku. Opor ayam buatan Ibu memang tidak ada tandingannya. Aku selalu ingin bergegas pulang ke rumah jika Ibu sudah menyebut kalimat opor ayam.

Untuk saat ini, aku harus tegas. Aku harus berpendirian teguh. Virus masih ada. Dunia belum baik-baik saja. Aku tidak boleh terlena oleh ajakan jitu Ibu.

Didin: “ Bu, maafkan Didin. Sepertinya tahun ini Didin belum bisa pulang ke Solo. Maaf ngih Bu... Nanti Didin minta foto opor ayamnya aja, Bu. Aroma nya otomatis langsung sampai di sini.”

Ibu: “ Kok kamu gitu to, Din.. Kamu lebih mementingkan kerjaan kamu ya sekarang dari pada opor ayam buatan Ibu? ;(.”

Didin: “ Justru karna Didin sayang sekali dengan Ibu, Ayah, Dek Tuti, dan opor ayam buatan Ibu, Didin nggak pulang dulu. Bu... Didin tidak mau menyepelekan virus ini. Meskipun banyak yang memilih mudik ke kampung halaman, tapi Didin di kosan aja. Lebaran disini juga menyenangkan kok, Bu. Ada temen-temen kost dan Ibu Bapak kost juga. Jadi Didin nggak kesepian disini 😊. Opor ayam nya nanti jangan lupa difoto ngih Bu...”

Tidak ada notifikasi typing dari Ibu. Sudah centang biru, artinya Ibu sudah membaca pesanku. Ibu pasti sekarang sedang mengadu ke Ayah, bilang kalau anak bungsunya sekarang sudah tidak mempan lagi dibujuk strategi opor ayam.

Memang, se ramai-ramainya lebaran di tempat kos, bersama teman, memang tidak bisa mengalahkan lebaran bersama keluarga di rumah.  Kali ini, situasi nya berbeda. Situasi yang mau tidak mau, suka tidak suka, mengajarkan kita betapa pentingnya arti kesabaran, dan arti sayang. Perasaan iri, cemburu yang sudah terlanjur mudik? pasti ada. Aku pun sangat iri. Tapi.. jika semua nekat mudik ke kampung halaman, melanggar keputusan yang dibuat oleh pemerintah, untuk apa adanya jajaran pemimpin di negeri ini?. Fungsi dan tugas pemimpin adalah bertanggung jawab, mengatur, memastikan rakyatnya selalu aman, dan dalam pengawasan yang baik.

Meski tidak lebaran di kampung halaman, kita bisa berbagi cerita dengan teman kos atau teman lainnya tentang bagaimana situasi lebaran di rumah mu pada saat sebelum ada virus ini. Itu bisa menjadi salah satu pengobat rindu, sekaligus mendapat cerita baru tentang keberagaman adat lebaran di masing-masing daerah. Seru, bukan?.

Lebaran bukan tentang mudik ke kampung halaman, makan opor ayam bersama keluarga. Lebaran yang sesungguhnya adalah menyempurkan kesabaran hati yang sudah terlatih satu bulan penuh di Bulan Ramadhan.

Inilah sebuah kisah sayang abadi seorang anak rantau kepada keluarganya. Sedikit pengorbanan, dan pengikhlasan seorang anak demi menyelematkan keluarganya.

Bukankah sayang memang butuh pengorbanan dan ikhlas?. 

Comments

Popular posts from this blog

PEMERAN UTAMA

Pemeran utama itu melelahkan! Aku ingin jadi pemeran pendukung, kalau perlu, hanya figuran beberapa detik. Tulisan ini sungguh aneh. Cerita ini sungguh membosankan. Aku ingin, aku ingin hidup ceria, apa itu mungkin?. Aku bangga dengan semua hal yang dilakukan diri sendiri, atau orang lain. Perjuangan itu memang ada. Rasa simpati itu memang nyata. Dan, waktu terus berjalan. Pemeran utama adalah tujuan utama. Malam hari, udara sangat sejuk. Gemerlapnya bulan bintang yang selalu setia menemani. Tak lupa, langit yang selalu ada.

Pembebasan Boneka Sapi

          12 Januari 2000, adalah hari lahir Renu. Tidak terasa memang, waktu berjalan begitu cepat. Salah, sebenarnya tergantung situasi dan kondisi. Saat suasana hati Renu dalam kondisi cerah, waktu akan berjalan cepat, bahkan terkadang sangat cepat. Begitu juga sebaliknya, saat suasana hati Renu pudar, waktu seakan sangat lambat. Bahkan, Renu sempat berpikir, apakah waktu benar berjalan?. Jika dipikir lebih jeli dan mendalam, waktu tidak salah apa-apa. Waktu tetap berputar pada poros dan tugasnya. Hati manusia inilah   yang dengan sesuka hati selalu memprediksi segala hal. Termasuk, waktu. Usia Renu memasuki usia remaja akhir, dan siap untuk memasuki tahap usia dewasa awal. Angka penghujung belasan itu membuat Renu panik. Banyak sekali hal-hal yang dicemaskannya. Bagaimana aku saat dewasa nanti? hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi orang dewasa? apakah aku sanggup?. Kecemasan itu yang selalu mengganggu hari-hari Renu. Ba...

Sedikit Tentang Perasaan

  Hari ini, hujan lebat disertai angin kencang. Di sore hari yang sibuk. Sebuah tulisan tentang sore hari. aku ingin mencurahkan, lagi-lagi tentang perasaan. Perasaan menyukai. Perasaan mencintai. Sebenarnya, apa itu mencintai? Tertarik dengan seseorang? mengagumi? Aku rasa iya. Tetapi, apa benar hanya itu? Sudah sejak saat remaja, hingga beberapa tahun sebelum masa hari ini, sudah banyak laki-laki yang aku kagumi. Tapi, aku tidak merasakan hal lain. Tidak merasa apa itu tersipu malu, apa itu hati berdebar, dan perasaan guncang lainnya. Tidak, aku tidak merasakan itu. Yang aku rasakan hanyalah kekaguman yang luar biasa. Kekaguman yang akhirnya berujung biasa saja. Pernah, dua kali. Karna aku tidak tahu apa itu arti sebenarnya menyukai seseorang, aku sempat bilang secara langsung kalau aku menyukai orang itu. Pada awalnya canggung, tapi itu hanya sebentar. Lalu, akhirnya berjalan seperti biasa. Sedikit sekali kesedihan yang aku alami saat aku belum ...